Pikirku, Pikirmu: Edisi Fangirl

2015-10-19 20.50.33

 

 

Kebetulan mau iseng aja menanggapi postingan dari salah satu teman di screencap atas. Screencap diambil dari status teman di medsos NGEPET. Ya intinya teman saya ini juga cuma merepost ulang hasil screencap dari linimasa medsos LAIN dimana ada salah satu dari ‘teman’-nya (kita sebut saja A) yang membuat postingan sebagaimana tertera di atas.

Dari postingan awal, (dengan belagu) bisa kita simpulkan bahwa si A itu adalah penggemar Kpop dan teman saya pun berkomentar cukup sarkastik. Sebenarnya nggak ada yang dipermasalahin sih dalam kejadian ini, cuma saya aja yang kurang kerjaan mau komentar uneg-uneg kurang penting yang ada di kepala.

Pertama, teman saya jelas tidak salah. Lah wong dia cuma komentar di statusnya sendiri, suka-suka dia juga mau cuap-cuap apa. Kebebasan berekspresi cyin!

TA-PI! saya sedikit tersinggung juga dengan pandangannya di status tersebut sih. Sebagai yang pernah jadi semi-hardcore kpop fangirl, saya akui saya kurang lebih bisa memahami si A. Ibaratnya demi ‘oppa’ pujaan hati, apapun rela kita lakukan. Eh tapi kayaknya juga nggak se-ekstrim A sampe nggak makan gitu (urusan perut tetap prioritas boookk). Yah… kalau mau dipikir lebih teliti, yang namanya fangirling/fanboying itu sebenarnya bukan hobi yang murah. Ya yang namanya hobi, mau semurah apapun itu, pasti ada aja sejumlah uang yang harus keluar. Hobi baca minimal beli atau rental bukunya, hobi nonton ya bayar HTM bioskop, hobi masak, hobi olahraga dll pasti juga setidaknya ada dana yang dikeluarkan. Apesnya, dana untuk hobi fangirling itu memang  jumlahnya nggak sedikit. Kalau ngefans sama penyanyi, biasanya minimal beli albumnya lah. Kalau mau lebih hardcore  ngumpulin poster atau official pictorial book yang dikeluarin sama agensi si penyanyi. Atau kalau mau ekstrim lagi, beli-beli merchandise unofficial buatan fandom penyanyi itu. Ada banyaak caranya.

Tujuannya ya mungkin cuma satu: self satisfication, alias kepuasan diri. Entah bagi si penggemar barang-barang itu cuma buat koleksi pribadinya, buat jadi pajangan di rumah atau di kamar buat diliat-liat sendiri sambil senyum-senyum (hahaha). Yaa setidaknya cuma itu sih tujuan saya berfangirling. Mungkin akibat objek semi-hardcore fangirling saya juga sebenarnya adalah pria-pria buatan import (baca: artis-artis luar) dan pria-pria berbeda dimensi (baca: fictional character), maka saya keseringan teringat bahwa mereka itu adalah makhluk-makhluk di luar jangkauan saya yang aku-mah-apa-atuh-cuma-butiran-jasjus, dan akhirnya jadi ngerem keinginan buat berlebih-lebihan punya mimpi bisa menikah dengan oppa/hasbando HUAHAHAHAHAHAHA (maaf khilaf).

Yang penting dalam mendalami hobi selain mendapatkan kepuasan diri, kepuasan batin, jangan sampai menganiaya diri sendiri juga. Demi beli merchandise si artis sampe nggak makan, ya nggak begitu juga kali buu… Sebisa mungkin jadilah seorang fangirl yang rasional, mampu berpikir jernih, usahakan jangan sampai jadi bahan cibiran dari orang-orang di sekitar kita. Cobalah untuk sukses di kehidupan nyata, niscaya keinginan fangirling kamu pun dijamin akan semakin LANCARR.

Oh by the way how do you classified your fangirling/boying type?

Still have no idea? Perhaps this QUIZ will help 

Tipe saya sih yang begini:

The Subtle Stalker

The

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s